Dalam proses ini terdapat tiga
tahap, yaitu tahap analisis, transfer dan restrukturisasi. Dalam tahap
analisis, penerjemah menganalisis teks BSu dalam hal (a) yang berhubungan
dengan gramatikal yang ada, dan (b)
makna kata dan rangkaian kata-kata utuk memahami makna atau isinya
secara keseluruhan. Hasil tahap ini yaitu makna BSu yang telah di pahami,
ditransfer di dalam pikiran penerjemah dari BSu ke dalam BSa. Baru setelah itu,
dalam tahap restrukturisasi, makna tersebut di tulis kembali dalam BSa sasuai
dengan aturan dan kaidah yang ada di dalam BSa.
Proses di atas kelihatan rumit, akan
tetapi setelah dimengerti sebenarnya cukup mudah untuk di pahami. Meskipun
demikian, Suryawinata (1989 :14) berusaha memperjelas skema tersebuut dengan
meminjam konsep struktur batin dan struktur lahir tata Bahasa Generatif
Transformasi (TGT) seperti pada gambar sebagai berikut:
gambar lihat di Jasa Penerjemah,
Gambar di atas merupakan proses
penerjemahan yang di sempurnakan oleh Nida danTaber.
Untuk mengetahui lebih lanjut,
bagan di atas bisa di jelaskan sebagai
berikut:
1. Tahap analisis atau Pemahaman.
Dalam tahap
ini struktur lahir (atau kalimat yang ada) dianalisis menurut hubungan
gramatikal, menurut makna kata atau kombinasi kata, makna tekstual, dan bahkan
makna kontekstual. Ini merupakan proses transformasi balik dari kata tersebut.
2. Tahap transfer.
Dalam tahap
ini materi yang sudah dianalisis dan pahami maknanya tadi diolah penerjemah
dalam pikirannya dan dipindahkan dari BSu ke dalam BSa. Dalam tahap ini belum
di hasilkan rangkaian kata, semuanya hannya terjadi di dalam batin.
3.
Tahap restrukturisasi.
Dalam tahap
ke tiga ini, penerjemah berusaha mecari padanan kata, ungkapan, dan struktur
kalimat yang tepat dalam BSa sehingga isi, makna dan pesan yang ada dalam teks
BSu tadi bisa disampaikan sepenuhnya dalam BSa.
4.
Tahap evaluasi dan revisi.
Setelah di dapat hasil terjemahan di
BSa, hasil itu dievaluasi atau di cocokkan kembali dangan teks aslinya,. Kalau
dirasa masih kurang padan, maka di lakukan revisi.
Keempat proses diatas kadang
berlangsung dengan sangat cepat, kadang juga sangat lambat. Untuk lebih
jelasnya kita bisa perhatikan proses penerjemahan untuk kalimat seperti contoh
di atas.
Jika ada kalimat asli seperti: She kicked the
farmer
1.
Analisis.
Dalam tahap
ini penerjemah memikirkan hal-hal berikut. She adalah subyek kalimat asli.
Kicked adalah kata kerjanya. Harus ada tambahan “ed” pada kata kerjanya untuk
menunjukan bahwa kejadianya sudah berlangsung. Sedangkan the farmer adalah
obyek yang di kenai kata kerja kick obyek ini adalah manusia yang pekerjaanya
mengolah tanah untuk menumbuhkan tanaman yang dapat menghasilkan bahan pangan.
2.
Transfer.
Dalam tahapan
kedua, penerjemah memikirkan hal-hal sebagai berikut. Orang ketigs tunggsl
adalah ia, dia dan beliau dalam Bahasa Indonesia. jenis kelamin pria tidak isa
di wakili dengan kata lain selain kata perempuan atau wanita. Kick adalah
perbuatan mengayunkan kaki dengan kuat ke arah depan. Dalam Bahasa Indonesia
orang yang pekerjaannya menanam tanaman untuk bahan pangan disebut dengan
petani. Namun harus diingat, semua yang dilakukan dalam tahap ini hanya terjadi
di dalam pemikiran seorang penerjemah saja.
3.
Restrukturisasi.
Dalam tahap
ini penerjemah menuliskan sesuatu, misalnya kata beliau(perempuan) menendang
petani.
4.
Evaluasi dan revisi.
Dalam tahap ini penerjemah kembali
mengamati hasil kerjanya, yaitu penerjemah akan merasa kalimat tersebut kurang
luwes jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. maka kata permpuan dia buang, Kata
beliau dirasa terlalu sopan, dan kata petani bisa terasa terlalu umum. Maka
penerjemah bisa merevisi kalimat tersebut menjadi “Dia menendang petani itu”.
Selain Nida dan Taber, Larson (1984:
3-4) juga mengajukan model terjemahan. Model tersebut secara garis besar sama,
tetapi kelihatanya lebih sederhana. artikel yang jasa penerjemah muat di atas di kutip dari buku yang di tulis
Dr. Kardimin, M.Hum. dalam bukunya yang berjudul Pintar menerjemah (2013)
Tadi dikatakan bahwa kelihatanya
proses ini lebih sederhana dari pada proses yang di ajukan Nida dan Taber. Itu hanya
kelihatannya saja, tetapi sebenarnya kedua proses itu sama rumitnya. (bukankah
proses yang dimaksud itu sama?) menuurut Larson proses terjemahan itu terdiri
dari mempelajari dan menganalisis kata-kata, sturktur gamatikal, situasi komunikasi
dalam teks BSu, dan konteks budaya BSu untuk memahami makna yang ingin di
sampaikan oleh teks BSu. Ini sama persis dengan tahap analisis menurut Nida
danTaber. versi berikutnya akan di tulis oleh penerjemah dokumen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar