Senin, 14 September 2015

Jasa Penerjemah

Proses terjemahan lanjutan Jasa Penerjemah yang lalu!

Dalam proses ini terdapat tiga tahap, yaitu tahap analisis, transfer dan restrukturisasi. Dalam tahap analisis, penerjemah menganalisis teks BSu dalam hal (a) yang berhubungan dengan gramatikal yang ada, dan (b)  makna kata dan rangkaian kata-kata utuk memahami makna atau isinya secara keseluruhan. Hasil tahap ini yaitu makna BSu yang telah di pahami, ditransfer di dalam pikiran penerjemah dari BSu ke dalam BSa. Baru setelah itu, dalam tahap restrukturisasi, makna tersebut di tulis kembali dalam BSa sasuai dengan aturan dan kaidah yang ada di dalam BSa.
Proses di atas kelihatan rumit, akan tetapi setelah dimengerti sebenarnya cukup mudah untuk di pahami. Meskipun demikian, Suryawinata (1989 :14) berusaha memperjelas skema tersebuut dengan meminjam konsep struktur batin dan struktur lahir tata Bahasa Generatif Transformasi (TGT) seperti pada gambar sebagai berikut:

 gambar lihat di Jasa Penerjemah,
Gambar di atas merupakan proses penerjemahan yang di sempurnakan oleh Nida danTaber.
Untuk mengetahui lebih lanjut, bagan  di atas bisa di jelaskan sebagai berikut:
1.       Tahap analisis atau Pemahaman.
Dalam tahap ini struktur lahir (atau kalimat yang ada) dianalisis menurut hubungan gramatikal, menurut makna kata atau kombinasi kata, makna tekstual, dan bahkan makna kontekstual. Ini merupakan proses transformasi balik dari kata tersebut.
2.       Tahap transfer.
Dalam tahap ini materi yang sudah dianalisis dan pahami maknanya tadi diolah penerjemah dalam pikirannya dan dipindahkan dari BSu ke dalam BSa. Dalam tahap ini belum di hasilkan rangkaian kata, semuanya hannya terjadi di dalam batin.
3.       Tahap restrukturisasi.
Dalam tahap ke tiga ini, penerjemah berusaha mecari padanan kata, ungkapan, dan struktur kalimat yang tepat dalam BSa sehingga isi, makna dan pesan yang ada dalam teks BSu tadi bisa disampaikan sepenuhnya dalam BSa.
4.       Tahap evaluasi dan revisi.
Setelah di dapat hasil terjemahan di BSa, hasil itu dievaluasi atau di cocokkan kembali dangan teks aslinya,. Kalau dirasa masih kurang padan, maka di lakukan revisi.
Keempat proses diatas kadang berlangsung dengan sangat cepat, kadang juga sangat lambat. Untuk lebih jelasnya kita bisa perhatikan proses penerjemahan untuk kalimat seperti contoh di atas.
 Jika ada kalimat asli seperti: She kicked the farmer
1.       Analisis.
Dalam tahap ini penerjemah memikirkan hal-hal berikut. She adalah subyek kalimat asli. Kicked adalah kata kerjanya. Harus ada tambahan “ed” pada kata kerjanya untuk menunjukan bahwa kejadianya sudah berlangsung. Sedangkan the farmer adalah obyek yang di kenai kata kerja kick obyek ini adalah manusia yang pekerjaanya mengolah tanah untuk menumbuhkan tanaman yang dapat menghasilkan bahan pangan.
2.       Transfer.
Dalam tahapan kedua, penerjemah memikirkan hal-hal sebagai berikut. Orang ketigs tunggsl adalah ia, dia dan beliau dalam Bahasa Indonesia. jenis kelamin pria tidak isa di wakili dengan kata lain selain kata perempuan atau wanita. Kick adalah perbuatan mengayunkan kaki dengan kuat ke arah depan. Dalam Bahasa Indonesia orang yang pekerjaannya menanam tanaman untuk bahan pangan disebut dengan petani. Namun harus diingat, semua yang dilakukan dalam tahap ini hanya terjadi di dalam pemikiran seorang penerjemah saja.
3.       Restrukturisasi.
Dalam tahap ini penerjemah menuliskan sesuatu, misalnya kata beliau(perempuan) menendang petani.
4.       Evaluasi dan revisi.
Dalam tahap ini penerjemah kembali mengamati hasil kerjanya, yaitu penerjemah akan merasa kalimat tersebut kurang luwes jika digunakan dalam Bahasa Indonesia. maka kata permpuan dia buang, Kata beliau dirasa terlalu sopan, dan kata petani bisa terasa terlalu umum. Maka penerjemah bisa merevisi kalimat tersebut menjadi “Dia menendang petani itu”.
Selain Nida dan Taber, Larson (1984: 3-4) juga mengajukan model terjemahan. Model tersebut secara garis besar sama, tetapi kelihatanya lebih sederhana. artikel yang jasa penerjemah muat di atas di kutip dari buku yang di tulis

Dr. Kardimin, M.Hum. dalam bukunya yang berjudul Pintar menerjemah (2013)

Tadi dikatakan bahwa kelihatanya proses ini lebih sederhana dari pada proses yang di ajukan Nida dan Taber. Itu hanya kelihatannya saja, tetapi sebenarnya kedua proses itu sama rumitnya. (bukankah proses yang dimaksud itu sama?) menuurut Larson proses terjemahan itu terdiri dari mempelajari dan menganalisis kata-kata, sturktur gamatikal, situasi komunikasi dalam teks BSu, dan konteks budaya BSu untuk memahami makna yang ingin di sampaikan oleh teks BSu. Ini sama persis dengan tahap analisis menurut Nida danTaber. versi berikutnya akan di tulis oleh penerjemah dokumen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar